Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Owa Jawa Terancam Punah

Gambar
Owa Jawa, merupakan salah satu hewan primata paling langka. Keberadaannya masuk dalam status “terancam punah”. Selain makin sedikit, banyak yang memburu hanya untuk dipelihara. Pemberian status terancam ini sepertinya justru menarik masyarakat untuk kepentingan pribadi. Saat ini Owa Jawa hidup sebagian besar di hutan-hutan di Jawa Barat, sebagian kecil di Jawa Tengah, Gunung Slamet, dataran tinggi Dieng dan Jawa Timur. Makanan Owa Jawa adalah buah-buahan alami, daun muda dan serangga. Owa Jawa dapat hidup sampai umur 20 tahun. Ciri khas dari hewan ini adalah teriakkan atau nyanyiannya. Teriakkan atau nyanyian Owa Jawa menandakan territorial tempat tinggal dan area mencari makan. Saat ini berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan Owa Jawa dari kepunahan. Diantaranya kegiatan edukasi masyarakat luas, khususnya yang tinggal di daerah kawasan hutan. Anton Ario dari Conservation International Indonesia (CII) mengatakan, masyarakat sekitar h

Stop Perdagangan Illegal Satwa Liar melalui Jalur Sosial Media

Gambar
Perdagangan satwa liar umumnya  terjadi karena adanya hasrat manusia untuk memiliki. Dwi Nugroho Adhiasto, dari Wildlife Conservation Society (WCS) secara gamblang  menuturkan perdagangan illegal satwa liar di Indonesia pada Obrolan Sabtu Seru 17 April 2010 lalu. Dwi menegaskan bahwa 80% satwa liar di pasar  burung berasal dari alam dan hasil perburuan illegal. Minimal 4 ton gading telah beredar illegal dalam empat tahun terakhir di Sumatra Bagian Selatan. Dan sedikitnya 2.000 ekor trenggiling diekspor illegal per bulan sejak 2002.  Akibat  perdagangan illegal ini, Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp. 9 triliun/tahun (PHKA, 2009). Lantas bagaimana membunuh hasrat tersebut? “Dari sisi LSM, sudah banyak dilakukan kampanye tentang dampak negatif kalau tidak ada satwa liar tersebut, tetapi sepertinya masyarakat masih belum peduli akan isu tersebut. Mungkin berbagai kampanye tersebut perlu melibatkan berbagai kalangan untuk mendukungnya”, jelas Dwi Nugroho di depan peserta

Mengkonsumsi obat dengan bijaksana untuk kurangi sampah berbahaya

Gambar
Untuk berjaga-jaga, biasanya kita menyimpan beberapa jenis obat standar di rumah. Diantaranya ada obat pusing, diare, demam, batuk, dan lain-lain. Selain itu, untuk menjaga kesehatan anggota keluarga, di rumah juga tersedia beberapa jenis vitamin dan mineral. Ada kalanya, sebelum obat dan vitamin itu habis, ternyata tanggal penggunaannya sudah kadaluarsa. Atau, adakalanya juga obat yang biasanya dikonsumsi, dihentikan pemakaiannya oleh dokter. Dan yang juga sering terjadi, obat yang sudah dibeli atas anjuran dokter, tidak dikonsumsi karena alasan malas/ lupa. Padahal, membuang obat ke lingkungan begitu saja ternyata berbahaya seperti halnya membuang racun. Bagaimana sebenarnya penggunaan dan pembuangan obat yang bijaksana dan juga ramah lingkungan? Inilah tips penggunaan obat untuk meminimalkan sampah berbahaya: Agar kita dapat meminimalkan sampah obat, dimulai dengan membeli obat secara bijaksana. Belilah obat bebas (yang tidak perlu resep dokter) secukupn

Tip Memilih Cat Ramah Lingkungan

Gambar
Tip memilih cat/ tinta/ coating / varnish yang aman dan ramah lingkungan : Pastikan cat yang kita gunakan adalah cat air,  sebab persentase emisi thinners/cat minyak lebih tinggi dari BBM. Thinner atau minyak cat dan bahan bakar minyak ( BBM) keduanya berasal dari minyak bumi. Bedanya, jika BBM sebagian besar dikonfersi menjadi energi dan sisanya dibuang sebagai emisi carbon, Sedangkan thinners 100% MENGUAP pada saat proses pengeringan cat berlangsung. Tidak sedikitpun yg dikonversi jadi apapun. Selain itu, thinner juga mengeluarkan emisi gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan seperti toluen, acetone, MEK dll yang dapat menyebabkan kanker, gangguan syaraf dan menghambat pertumbuhan janin. Cat air mudah dikenali dengan istilah 'waterborne' atau 'water base' paint, yang bisanya tercantum pada label. Pastikan cat yang kita gunakan tidak berbau pedas/menyengat, bau pedas menyengat pada cat minyak

Meranti Terancam Punah

Gambar
(Doc. Wage Indra M.32 Ca) Populasi tumbuhan kayu meranti mendekati kepunahan. Meranti yang merupakan spesies dari famili Dipterocarpaceae masuk dalam penetapan spesies prioritas konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI. Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Tukirin Partomiharjo, Senin (27/9/2010), mengatakan, meranti bersama tumbuhan lain dalam famili Dipterocarpaceae seperti kayu kapur, kruing, dan bengkirai menjadi spesies yang paling banyak dimanfaatkan manusia. Namun, pengeksplorasian besar-besaran terhadap tumbuhan ini membuat populasinya terus berkurang.